Adab Menerima Tamu dalam Islam – Dalam Islam, memuliakan tamu bukan sekadar kebiasaan sosial, tetapi merupakan bagian dari akhlak mulia yang sangat dianjurkan. Rasulullah ﷺ bahkan menyebutkan bahwa siapa saja yang beriman kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala Subhanahu dan hari akhir, hendaknya ia memuliakan tamunya. Hal ini menunjukkan bahwa sikap terhadap tamu mencerminkan kualitas keimanan seseorang.
Kitab Ghida’ al-Albab Syarh Mandzumah al-Adab menjelaskan secara rinci bagaimana seharusnya seorang Muslim bersikap ketika menerima tamu, bukan hanya dari sisi pelayanan lahiriah, tetapi juga sikap batin, ekspresi wajah, hingga tutur kata. Semua itu bertujuan agar tamu merasa dihargai, nyaman, dan membawa pulang kesan baik tentang tuan rumah.
Dalam kehidupan sehari-hari, kita sering menerima saudara, tetangga, teman kerja, atau tamu tak terduga. Di sinilah pentingnya memahami adab menerima tamu dalam Islam, agar interaksi tersebut bernilai ibadah dan mendatangkan keberkahan. Dengan menerapkan adab-adab ini, rumah bukan hanya menjadi tempat tinggal, tetapi juga pusat kebaikan dan silaturahmi.
Artikel ini akan mengulas secara lengkap adab menerima tamu berdasarkan penjelasan dalam kitab Ghida’ al-Albab, mulai dari cara melayani, bersikap, hingga hal-hal kecil yang sering dianggap sepele namun memiliki nilai besar dalam Islam.

1. Melayani Tamu dengan Jamuan yang Layak
Salah satu adab utama dalam menerima tamu adalah memberikan jamuan, meskipun sederhana. Tidak harus mewah, tetapi disesuaikan dengan kemampuan. Dalam Islam, yang terpenting adalah keikhlasan dan kesungguhan dalam memuliakan tamu, bukan besarnya hidangan.
Jamuan menjadi simbol penghormatan dan kasih sayang. Bahkan Nabi Ibrahim ‘alaihis salam dikenal sebagai sosok yang sangat memuliakan tamu dengan segera menyuguhkan makanan terbaik yang ia miliki. Sikap ini menjadi teladan sepanjang masa bagi umat Islam.
Dalam konteks adab menerima tamu dalam Islam, jamuan juga mencerminkan sikap dermawan dan kepedulian. Dengan menyediakan minuman, makanan ringan, atau hidangan utama, tuan rumah menunjukkan bahwa kehadiran tamu adalah sesuatu yang membahagiakan, bukan merepotkan.
Baca Juga: Cara Mengamalkan Rukun Islam dalam Keseharian
2. Menampakkan Kondisi Serba Cukup dan Wajah Gembira
Kitab Ghida’ al-Albab mengajarkan agar tuan rumah menampakkan kondisi serba cukup, meskipun sebenarnya dalam keterbatasan. Maksudnya bukan berbohong atau berpura-pura kaya, tetapi tidak menunjukkan kesusahan atau keluhan kepada tamu sehingga mereka merasa tidak enak.
Selain itu, wajah yang gembira menjadi kunci penting dalam menyambut tamu. Senyuman yang tulus lebih bernilai daripada hidangan mahal tanpa keramahan. Ekspresi ceria membuat tamu merasa diterima, dihormati, dan nyaman berada di rumah kita.
Dalam praktik adab menerima tamu dalam Islam, wajah berseri adalah bentuk sedekah. Bahkan Rasulullah ﷺ bersabda bahwa senyum kepada saudara adalah sedekah. Maka, tersenyum kepada tamu menjadi bagian dari ibadah yang ringan namun berpahala besar.
3. Mengajak Mengobrol dengan Hal yang Mereka Sukai
Berbicara dengan tamu bukan sekadar basa-basi, tetapi bertujuan untuk membuat mereka merasa dihargai. Kitab Ghida’ al-Albab menganjurkan agar tuan rumah mengajak tamu berbincang tentang hal-hal yang mereka sukai, bukan topik yang membosankan, sensitif, atau menyinggung perasaan.
Mendengarkan cerita tamu dengan penuh perhatian juga merupakan bagian dari akhlak mulia. Sikap ini menunjukkan bahwa kita menghormati pengalaman, pendapat, dan perasaan mereka. Jangan memotong pembicaraan atau sibuk dengan gawai saat tamu berbicara.
Inilah esensi adab menerima tamu dalam Islam: bukan hanya melayani secara fisik, tetapi juga menghadirkan kehangatan emosional yang membuat tamu merasa diterima sepenuh hati.
4. Tidak Tidur Sebelum Tamu Pergi atau Beristirahat
Dalam kitab tersebut dijelaskan bahwa tuan rumah sebaiknya tidak tidur terlebih dahulu sebelum tamu pergi atau beristirahat. Hal ini menunjukkan kepedulian dan kesiapan melayani jika masih ada kebutuhan tamu.
Jika tuan rumah tidur lebih dulu, tamu bisa merasa sungkan untuk meminta sesuatu atau bahkan merasa diabaikan. Karena itu, Islam mengajarkan agar tuan rumah tetap siaga selama tamu masih berada di rumah.
Sikap ini memperkuat makna adab menerima tamu dalam Islam, yaitu mendahulukan kenyamanan tamu selama mereka bertamu, tanpa membuat mereka merasa menjadi beban.
5. Tidak Mengeluh atas Waktu dan Kehadiran Mereka
Mengeluh karena tamu datang diwaktu yang tidak tepat, terlalu lama, atau mengganggu aktivitas pribadi merupakan sikap yang tidak sesuai dengan adab Islam. Kitab Ghida’ al-Albab menekankan agar tuan rumah tidak menunjukkan rasa keberatan, baik secara lisan maupun ekspresi wajah.
Sebaliknya, kehadiran tamu seharusnya disambut sebagai rahmat dan peluang untuk mempererat silaturahmi. Dengan bersabar dan bersikap lapang dada, tuan rumah mendapatkan pahala serta keberkahan dalam hidupnya.
Inilah salah satu bentuk nyata adab menerima tamu dalam Islam yang mencerminkan kedewasaan spiritual dan kelapangan hati seorang Muslim.
6. Menampakkan Wajah Berseri dan Merasa Sedih Saat Tamu Pergi
Kitab Ghida’ al-Albab mengajarkan agar tuan rumah menampakkan wajah cerah ketika tamu datang, dan bahkan merasa sedih ketika mereka pergi. Hal ini bukan berarti bersedih berlebihan, tetapi menunjukkan bahwa kehadiran tamu membawa kebahagiaan dan keberkahan.
Perasaan sedih saat perpisahan menandakan ketulusan dalam menjalin silaturahmi. Ini berbeda dengan sikap lega karena tamu sudah pulang, yang justru dapat melukai perasaan mereka jika diketahui.
Dalam adab menerima tamu dalam Islam, sikap emosional ini mencerminkan kasih sayang, ketulusan, dan keinginan untuk terus menjaga hubungan baik dengan sesama.
Baca Juga: Parenting Islami Anak Usia Dini yang Harus Diterapkan!
7. Tidak Membicarakan Hal yang Menakutkan atau Menyusahkan
Tuan rumah juga dianjurkan untuk tidak membicarakan hal-hal yang menakutkan, menyedihkan, atau membuat tamu tidak nyaman, seperti kisah musibah, penyakit, kematian, atau masalah berat lainnya, kecuali jika memang ada maslahat yang jelas.
Tujuan utama pertemuan adalah menghadirkan kebahagiaan, ketenangan, dan suasana positif. Oleh karena itu, pembicaraan sebaiknya mengarah pada hal-hal yang menyenangkan, bermanfaat, atau menghibur.
Inilah salah satu wujud adab menerima tamu dalam Islam yang sering diabaikan, padahal sangat berpengaruh terhadap suasana hati dan kenyamanan tamu selama bertamu.
8. Tidak Marah kepada Siapa Pun Selama Tamu Bertamu
Kitab Ghida’ al-Albab juga mengingatkan agar tuan rumah tidak marah kepada siapa pun selama tamu berada di rumah, baik kepada anggota keluarga, anak-anak, maupun pembantu. Tujuannya agar suasana rumah tetap harmonis dan tamu merasa nyaman.
Pertengkaran, bentakan, atau konflik di depan tamu dapat membuat mereka merasa tidak enak, canggung, bahkan ingin segera pulang. Oleh karena itu, Islam mengajarkan pengendalian emosi sebagai bagian dari adab menerima tamu.
Dalam konteks adab menerima tamu dalam Islam, menjaga ketenangan dan keharmonisan rumah saat tamu hadir adalah bentuk akhlak mulia yang sangat dianjurkan.
9. Mengingatkan Tamu untuk Menjaga Sandal dan Barang Bawaan
Kitab ini juga menyebutkan bahwa tuan rumah hendaknya mengingatkan tamu untuk menjaga sandal atau barang bawaannya. Hal ini bukan bermaksud mencurigai, tetapi sebagai bentuk perhatian dan kepedulian terhadap kenyamanan serta keamanan tamu.
Misalnya, dengan menunjukkan tempat meletakkan alas kaki atau menyediakan rak khusus, tuan rumah membantu tamu merasa lebih tertata dan aman selama berada di rumah.
Sikap ini termasuk dalam adab menerima tamu dalam Islam, yang menekankan perhatian pada hal-hal kecil namun berdampak besar terhadap kenyamanan tamu.
10. Memberi Oleh-Oleh kepada Anak-Anak Tamu
Memberi sesuatu kepada anak-anak tamu, meskipun kecil, merupakan adab yang sangat dianjurkan. Bisa berupa makanan ringan, permen, atau hadiah sederhana lainnya. Hal ini membuat anak-anak merasa diperhatikan dan senang berada di rumah kita.
Selain itu, sikap ini juga membantu orang tua mereka merasa dihormati dan dihargai. Anak-anak yang senang biasanya akan mengingat rumah tersebut sebagai tempat yang ramah dan menyenangkan.
Dalam adab menerima tamu dalam Islam, memperhatikan anak-anak bukan hanya bentuk kasih sayang, tetapi juga investasi akhlak yang baik dalam membangun hubungan sosial yang harmonis.
11. Tidak Menunggu Orang yang Akan Datang Saat Sedang Menyuguhi Jamuan
Kitab Ghida’ al-Albab mengajarkan agar tuan rumah tidak menunda menyajikan hidangan hanya karena menunggu tamu lain yang belum datang. Sebab, hal ini dapat membuat tamu yang sudah hadir merasa tidak dihargai atau tidak diperhatikan.
Islam mengajarkan untuk memuliakan tamu yang sudah ada terlebih dahulu. Jika tamu lain datang belakangan, mereka tetap bisa dilayani tanpa mengurangi penghormatan kepada yang lebih dulu hadir.
Prinsip ini memperkuat makna adab menerima tamu dalam Islam, yaitu memberikan perhatian penuh kepada setiap tamu tanpa menunda kebaikan yang bisa dilakukan saat itu juga.
12. Hikmah Menerapkan Adab Menerima Tamu
Menerapkan adab menerima tamu bukan hanya membuat hubungan sosial menjadi lebih baik, tetapi juga mendatangkan keberkahan dalam rumah tangga. Rumah yang sering digunakan untuk memuliakan tamu akan dipenuhi ketenangan, kasih sayang, dan doa-doa kebaikan dari orang-orang yang berkunjung.
Selain itu, sikap ini melatih keikhlasan, kesabaran, dan empati. Tuan rumah belajar mendahulukan orang lain, mengendalikan emosi, serta membangun komunikasi yang sehat. Semua ini merupakan bagian penting dari pendidikan akhlak dalam Islam.
Dengan memahami dan mengamalkan adab menerima tamu dalam Islam, seorang Muslim tidak hanya menjadi pribadi yang ramah, tetapi juga berkontribusi dalam menciptakan masyarakat yang harmonis dan penuh kasih sayang.
Baca Juga: Cara Menjaga Fitrah Anak di Sekolah dan Rumah
13. Tidak Menunggu Orang yang Akan Datang Saat Sedang Menyuguhi Jamuan
Dalam kitab Ghida’ al-Albab, dijelaskan bahwa tuan rumah tidak dianjurkan menunda penyajian hidangan hanya karena masih menunggu tamu lain yang belum datang. Menunda jamuan dapat membuat tamu yang sudah hadir merasa kurang dihargai, bahkan merasa tidak enak hati karena harus menunggu tanpa kejelasan.
Padahal, Islam mengajarkan untuk memuliakan tamu yang sudah ada terlebih dahulu, tanpa menggantungkan pelayanan pada kehadiran orang lain. Inilah bagian penting dari adab menerima tamu dalam Islam, yaitu memberikan perhatian penuh kepada setiap tamu sesuai waktu kedatangannya, sehingga suasana silaturahmi tetap hangat, nyaman, dan penuh penghormatan.
Menanamkan Adab Mulia Sejak Dini

Adab menerima tamu adalah bagian dari akhlak Islam yang sangat penting untuk ditanamkan sejak dini kepada anak-anak. Melalui contoh orang tua di rumah, anak belajar bagaimana bersikap ramah, menghormati orang lain, serta menjaga adab dalam pergaulan sosial.
Jika anda ingin anak tumbuh dengan karakter Islami yang kuat, berakhlak mulia, dan memiliki fondasi agama yang kokoh, maka memilih lingkungan pendidikan yang tepat menjadi langkah penting. Sekolah Islam Fitrah Tunas Bangsa hadir sebagai pilihan terbaik untuk pendidikan anak anda, mulai dari KB, TKIT, hingga SDIT, dengan kurikulum yang memadukan nilai Islam, karakter, dan kecerdasan akademik.
Mari bersama membangun generasi beradab, beriman, dan berakhlak mulia dengan menyekolahkan anak di Sekolah Islam Fitrah Tunas Bangsa, tempat tumbuhnya anak-anak shalih dan shalihah masa depan.
Baca Juga: 6 Rukun Iman & Maknanya yang Wajib Dipahami Umat Muslim.

